Tokoh Penting dalam Pendirian Republik Indonesia, Tan Malaka Layak Diberikan Penghargaan

tan malaka fadli zon Foto: Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon.

Jakarta - Sosok Tan Malaka layak diberikan penghargaan karena banyak berkontribusi dalam mendirikan negara Republik Indonesia (RI) dan perjuangan melawan penjajah Belanda.
 
Tidak hanya itu,Tan Malaka juga banyak memberikan gagasan kebangsaan.
 
"Kita harus memberikan penghargaan kepada tokoh besar seperti Tan Malaka," kata Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon dalam diskusi bertajuk Pemikiran dan Perjuangan Tan Malaka, di Ruang Operasi, Gedung Nusantara DPR RI, Jakarta, Senin (27/3).
 
Fadli menyarankan agar beberapa tempat yang pernah disinggahi Tan Malaka, diberikan nama pahlawan nasional tersebut.
 
"Misalnya Tan Malaka pernah singgah di Kalibata, di daerah itu bisa diberikan nama Tan Malaka sebagai nama jalan," tuturnya.
 
Politisi Partai Gerindra itu menilai Tan Malaka sebagai tokoh nasionalis dan muslim serta banyak melakukan aktivitas di lingkup nasional serta internasional. Hal itu juga yang membedakan Tan Malaka dengan tokoh kiri lainnya.
 
“Yang jelas Tan Malaka adalah seorang nasionalis, itu satu hal yang membedakan tokoh-tokoh kiri yang lain, dan dia juga seorang muslim,” kata Fadli.
 
Ia mengungkapkan, Tan Malaka merupakan pemikir awal sebelum kemerdekaan Indonesia yang memiliki konsep tentang negara republik. Tan Malaka sebagai konseptor pertama negara Republik Indonesia pada 1925. Ketika karya ini keluar, belum terjadi peristiwa Sumpah Pemuda (1928).
 
“Salah satu yang paling monumental adalah Naar de Republiek atau menuju republik, itu gagasan dari Tan Malaka yang dituangkan dalam sebuah buku tahun 1925. Jadi ketika orang-orang belum ada pemikiran tentang Indonesia merdeka, Tan Malaka sudah menulis menuju Republik Indonesia,” ungkapnya.
 
Fadli Zon mengatakan, pemikiran Tan Malaka tentang negara berlandaskan pada nilai-nilai humanis. Dia juga dinilai sebagai revolusioner sejati yang mengharapkan Indonesia merdeka 100 persen.
 
Konsekuensi dari itu, Tan Malaka tak pernah mau bekerja sama dengan kolonialis, dan telah mengorbankan hidupnya demi republik. Namun amat disayangkan, dia tak bisa menikmati kemerdekaan Indonesia.
 
“Bagaimana menempatkan Tan Malaka lebih terhormat sebagai pahlawan,” kata Fadli.
 
Fadli juga menegaskan Tan Malaka adalah pahlawan nasional. Hal ini mengacu pada Keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden RI pertama, Soekarno, 28 Maret 1963. Menurutnya, Tan Malaka adalah tokoh yang penting dalam pendirian Republik Indonesia.
 
Di tempat yang sama, peneliti asal Belanda, Harry A. Poze, dalam diskusi itu mengatakan Tan Malaka memiliki 14 karakter dan dikenal dunia internasional sebagai tokoh yang berhasil melakukan penyamaran di sejumlah negara selama 20 tahun.
 
"Tan Malaka dikenal sebagai pemikir, aktivis, gerilyawan, diplomat, hingga dituduh sebagai mata-mata," kata Harry.
 
Menurutnya, Tan Malaka setelah selama sekitar 20 tahun mengembara, di Asia dan Rusia, kembali ke Indonesia pada 1942.
 
Setelah kembali ke Indonesia, Tan Malaka yang menjadi tokoh pelarian tetap menyamar dengan menggunakan beberapa nama.
 
Wakil Bupati Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Ferizal Ridwan (kedua kanan), didampingi sejumlah tokoh adat dari Tan Malaka Institut memanjatkan doa saat ziarah di makam Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur.
 
Sejarawan dari Universitas Indonesia, Mohammad Iskandar menilai, Tan Malaka adalah pejuang yang kesepian dan tokoh misterius.
 
Tan Malaka dalam perjuangannya, kata dia, berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya dan dari suatu negara ke negara lainnya, dengan berganti-ganti-nama.
 
"Kelebihan Tan Malaka adalah mengusai sejumlah bahasa dan menggunakannya secara fasih," katanya.
 
Pada saat Tan Malaka tinggal di Banten, dia menggunakan nama Ilyas Husein.
 
Seorang keturunan Tan Malaka yang hadir dalam diskusi itu, Hengky Novaron Arsil mengatakan, Tan Malaka lahir di Nagari Pandan Gadang, Sumatera Barat, pada 1894.
 
Menurut dia, Tan Malaka kecil hidup dalam keluarga yang relijius, tapi gemar bermain layang-layang dan sepak bola.
 
Tan Malaka yang di kampungnya bernama Ibrahim, kata dia, dikenal sebagai anak yang cerdas tapi nakal.
 
"Pada usia 16 tahun, Tan Malaka sudah hafal Al Quran, dan mendapat beasiswa untuk belajar di sekolah guru Fort De Kock di Bukittinggi, tempat sekolah anak-anak priyai," katanya.
 
Tan Malaka kemudian melanjutkan pendidikan ke Belanda. "Di Belanda, Tan banyak belajar soal politik," ujarnya.
 
Hengky juga mengakui, Tan Malaka memiliki pemikiran yang revolusioner dan mengembara dari satu negara ke negara lainnya, selama 20 tahun, pada 1922-1942, dengan menyamar.
 
Menurut dia, Tan Malaka sukses dalam penyamarannya menggunakan 23 nama berbeda, karena fasih menggunakan sejumlah bahasa, baik bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Rusia, Filipina, dan bahasa lainnya.